. Hikmah Perennial Institute: Kertas Kerja

INDEKS

Tampilkan postingan dengan label Kertas Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kertas Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juli 2010

Memahami Adat Nusantara Secara Paling Benar dengan Metode Perenial

Oleh Ferry Hidayat

Indonesia memiliki sekitar 472 kelompok etnis (termasuk kelompok-kelompok sub-etnis di dalamnya).[1] Setiap kelompok etnis (bersama dengan kelompok sub-etnisnya) memiliki kultur dan peradaban masing-masing. Meskipun berlainan, kultur-kultur dan peradaban-peradaban itu disebut dengan satu sebutan oleh orang Indonesia masa kini, yaitu ‘adat’.[2] Adat menghimpun secara longgar semua kultur dan peradaban yang berlainan dari semua suku pribumi di Indonesia di bawah satu payung.[3]

Kamis, 29 Juli 2010

Why I am Not an Untraditionalist? Sebuah Tanggapan untuk Legenhausen

Oleh Hardiansyah Suteja


Abstrak
Pada 2002, Hajj Muhammad Legenhausen menerbitkan paper yang berjudul “Why I am Not a Traditionalist?” secara on-line. Dalam paper tersebut dia mengkritik tradisionalisme atau para penganjur filsafat perennial. Kritik Legenhausen terhadap kalangan tradisionalis berpijak pada teologi dan sosiologi serta secara khusus pada sejarah teosofis Eropa. Dia melihat kritik kalangan tradisionalis—seperti Rene Guenon, Ananda Coomaraswamy, Frithjof Schuon dan Seyyed Hossein Nasr—terhadap modern bersifat romantik dan utopis. Sesungguhnya, kritik Legenhausen terhadap tradisionalis memiliki banyak kegalatan dan miskonsespi serta mengabaikan signifikansi spasio-temporal sosial dan dinamika di dalamnya. Dalam paper ini akan ditunjukkan ketidaktepatan kritik Legenhausen tersebut. Selain itu, juga akan diajukan saran atau rekomendasi ke depan mengenai bagaimana dan hal apa saja yang harus dipertimbangkan dan dilihat oleh kalangan tradisionalis ketika mengejawantahkan prinsip normativitasnya dan memecahkan permasalahan sosiokultural yang ada.
Kata kunci: tradisionalisme, modernisme, filsafat perennial, Teosophical Society, Islam, meme

Studi Corak Sastra Sufistik Nusantara pasca-Poejangga Baroe

Oleh Reno Azwir



Abstrak
Perjalanan sastra di Nusantara telah berlangsung selama beberapa abad. Kita bisa menarik benang merahnya sejak zaman kerajaan Hindu awal—di masa  Mpu Sindok (Abad ke-VII M), dan terus mengalir bahkan hingga di millennium kedua alaf ini. Namun letak kajian kita tidak ingin merangkul seluruh perjalanan historis itu secara holistik. Melainkan mencoba mengambil satu jalur lain—yang juga berkenaan dengan sastra yang pernah dan terus berkembang di negeri ini. Kami akan coba mengaitkan keterpaduan sastra itu dengan Islam sufistik, yang peran serta pengaruhnya juga penting dalam perkembangan bangsa Indonesia.

Kata kunci: sastra, Nusantara, sufistik, poejangga baroe
 

Pengikut

© 2009 Free Blogger Template powered by Blogger.com | Designed by Amatullah |Template Design