Oleh Hardiansyah Suteja
Abstrak
Pada 2002, Hajj Muhammad Legenhausen menerbitkan paper yang berjudul “Why I am Not a Traditionalist?” secara on-line. Dalam paper tersebut dia mengkritik tradisionalisme atau para penganjur filsafat perennial. Kritik Legenhausen terhadap kalangan tradisionalis berpijak pada teologi dan sosiologi serta secara khusus pada sejarah teosofis Eropa. Dia melihat kritik kalangan tradisionalis—seperti Rene Guenon, Ananda Coomaraswamy, Frithjof Schuon dan Seyyed Hossein Nasr—terhadap modern bersifat romantik dan utopis. Sesungguhnya, kritik Legenhausen terhadap tradisionalis memiliki banyak kegalatan dan miskonsespi serta mengabaikan signifikansi spasio-temporal sosial dan dinamika di dalamnya. Dalam paper ini akan ditunjukkan ketidaktepatan kritik Legenhausen tersebut. Selain itu, juga akan diajukan saran atau rekomendasi ke depan mengenai bagaimana dan hal apa saja yang harus dipertimbangkan dan dilihat oleh kalangan tradisionalis ketika mengejawantahkan prinsip normativitasnya dan memecahkan permasalahan sosiokultural yang ada.
Kata kunci: tradisionalisme, modernisme, filsafat perennial, Teosophical Society, Islam, meme