. Hikmah Perennial Institute: Artikel

INDEKS

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Juli 2010

Adat Babuhul Sentak

Oleh Ferry Hidayat


Adat Babuhul Sentak, yang diindonesiakan menjadi ‘Adat yang Disimpul Longgar’, adalah sebuah istilah suku Melayu-Minang yang digunakan untuk menyebut segala adat atau ‘hukum sosial’ yang boleh dikenai perubahan, bersifat temporer, dapat diperbarui serta disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Kamis, 29 Juli 2010

Perenialisme

Oleh Ferry Hidayat

Perenialisme, atau sering pula disebut Tradisionalisme, adalah kecenderungan (tren) akademis yang muncul di Barat awal abad 20 M dan kian mendapatkan momentum di abad ini. Penamaannya berasal dari tulisan Augostino Steuco (1497-1548) berjudul De perenni philosophia libri X (1540), sedangkan isi, bentuk dan sistem mapannya secara historis dibangun oleh René Guénon (1886-1951), Ananda Coomaraswamy (1877-1947), Frithjof Schuon (1907-1998), serta Aldous Leonard Huxley (1894-1963). Semua penulis tersebut memanggilnya dengan nama-nama berbeda seperti Sophia Perennis (Kebijaksanaan Abadi), Religio Perennis (Agama Abadi),Philosophia Perennis (Cinta Kebijaksanaan Abadi), tapi semua nama itu dapat dirangkum dalam satu sebutan: Perenialisme.

Filsafat Indonesia

Oleh Ferry Hidayat

Filsafat Indonesia, sebagai sebuah istilah, memiliki tiga arti: (1) sebuah nama generik untuk tradisi berpikir yang memiliki perjalanan historis yang sangat panjang, terentang sejak kebudayaan neolitikum berkembang (sekitar tahun 3500 sampai 2500 Masehi) di mana komunitas manusia pribumi membentuk kesatuan suku-suku dan etnisitas, hingga kemunculan gerakan nasional di awal abad 20 Masehi, yang mempersatukan suku-suku pribumi ke dalam entitas baru yang dinamakan 'Negara Kesatuan Republik Indonesia' (NKRI), yang terus berlanjut hingga saat ini; (2) sebuah nama kajian baru dalam disiplin ilmu filsafat yang berkembang di Indonesia, dipelopori oleh Mohamad Nasroen (1907-1968), seorang Guru Besar Filsafat di Universitas Indonesia, yang berupaya menggali dan menemukan orisinalitas dan otentisitas dalam tradisi filosofis Indonesia; dan (3) segala produksi pemikiran yang dihasilkan oleh sarjana filsafat lulusan sekolah tinggi, universitas atau akademi jurusan Filsafat di Indonesia, yang banyak didirikan oleh pastor Katolik-Roma sejak awal abad 20 M.

Budaya

Oleh Ferry Hidayat


Budaya  adalah bentuk jamak dari budiBudi sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kawi ‘buddhi’ yang memiliki 2 (dua) arti: ‘pikiran’ dan ‘hati’. Dalam khazanah Filsafat Indonesia, istilah budaya atau budi sungguh mendapat tempat istimewa. Buktinya, dari istilah ini orang Indonesia membangun kata-kata derivatif lainnya, seperti Budidaya, Kebudayaan, Budiman, Budiwan, Budiwati, Budayawan, Budi pekerti, dan lain-lain. Justru karena terlalu istimewanya, istilah ini menjadi obyek interpretasi dan obyek pemaknaan dari pelbagai mazhab filsafat berbeda-beda yang berkembang di Indonesia.

Pemakaian yang paling tua dari kata budi adalah dalam teks spiritual Jawa, Serat Centhini, yang ditulis pada tahun 1903, sebagaimana berikut ini:


Adat Babuhul Mati

Oleh Ferry Hidayat

Adat Babuhul Mati, yang diindonesiakan menjadi ‘Adat yang Disimpul Mati’, adalah sebuah istilah suku Melayu-Minang yang digunakan untuk menyebut segala adat atau ‘hukum kosmik’ yang tidak pernah mengalami perubahan, bersifat abadi, dan berlaku di segala zaman dan tempat. Karena itu, adat jenis ini ‘disimpul dengan simpul mati’; sebagaimana benda yang diikat tali dengan simpul mati: susah diubah, sulit diurai, tak bisa dilepas dengan mudah. Orang Melayu-Riau menamakannya ‘Adat Sebenar Adat’, yakni adat yang sejati. ‘Adat Babuhul Mati’ atau ‘Adat Sebenar Adat’ ini diungkap dalam banyak peribahasa, di antaranya ialah:

Adat

Oleh Ferry Hidayat

Adat adalah jalan hidup atau cara hidup yang diterapkan oleh suku-suku etnik asli. Adat juga meliputi cara berpikir, cara berperilaku, cara berada, cara berkesenian, cara beragama, cara mendidik generasi muda, cara berkebudayaan. Intinya, adat merupakan peradaban yang dibangun suku-suku asli.

Transmisi Spasio-Temporal Budaya

Oleh Reno Azwir



Budaya sebagai jejak laku manusia, yang diperoleh melalui hasil pembelajaran lengkap dengan unsur bahasa yang menjadi landasannya, sangat terikat dengan apa yang kita namakan ruang-waktu. Dalam ruang, budaya menjelma tradsi. Diikuti oleh turunannya yang kemudian masuk pada wilayah normatif dan relatif. Budaya yang sarat dengan tatanan norma kemasyarakatan, meski terkena hukum etiket. Relatif adanya. Karena hampir di setiap kebudayaan manusia, terdapat patokan yang berbeda untuk menjustifikasi sebuah tindakan budaya apakah beretika atau tidak.

Seni Profan-Sakral Serta Pengaruhnya terhadap Lingkaran Mistikal


Oleh Reno Azwir

a. Pranala awal
Sebelum pembahasan menjeluk pada kategorisasi seni sakral dan yang profan, maka terlebih dahulu penulis berusaha mendudukkan basis yang jelas pada wilayah epistemologi. Hingga kemudian muncul sebuah premis bahwa seni harus ditipologikan menjadi sakral dan profan. Landasan epistemologis seni, bermula dari filsafat yang salahsatu rantainya adalah aksiologi: estetika. Dimana segala jenis penilaian seputar keindahan, berkutat di dalamnya.

Peranan Ruh al-Quds dalam Spiritualitas

Oleh Reno Azwir


Sebelum masuk pada uraian soal apa dan bagaimana peranan ruh al-quds ini, terlebih dulu akan kami sertakan beberapa ayat yang di dalamnya tecantum frase tersebut. Pertama, yang berkenaan dengan kata ruh sedang yang kedua, terkait pada kata al-quds

al-Baqarah: 87

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Pasasi Singkat antara Pantheisme-Panentheisme vis a vis Wahdah al-Wujud

oleh Reno Azwir

Kata benda pantheisme (pantheisme), muncul secara gradual dalam susunan kata berbeda. Meski ia bermuara dari bentukan dua kata Yunani yang memiliki satu arti: pan (semua dan theos (Tuhan). Istilah “panteis” mencuat kali pertama dalam karya ilmiah Jhon Toland dari Irlandia (Socianisme Truly Stated pada 1705 M). Kedua, dengan bentukan kata “pantheisme” oleh Fay, lawan polemik Toland, pada 1709 M.[i] Sedang istilah teknis wahdah al-wujud, dikenalkan oleh penerus intelektual Ibn ‘Arabi, al-Farghani. Penggunaan istilah ini, sebenarnya dicuplik secara implisit oleh al-Farghani melalui karya-karya Syeikh al-Akbar. Meski secara eksplisit, Ibn ‘Arabi sendiri tak pernah mengatakan dengan gamblang, bahwa ia adalah penganut dan penggagas doktrin wahdah al-wujud. Setidaknya begitu yang terekam dalam catatan sejarah.

Pengantar Singkat Martabat Lima dan Martabat Tujuh


oleh Reno Azwir
  
Di bawah ini, saya akan mencoba mengelaborasi beberapa pahaman seputar derajat-derajat martabat Ilahiah yang ada di alam ciptaan, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Syeikh al-Akbar: Lima Kehadiran Ilahi yang ditengarai oleh Syeikh, di Nusantara kelak dikenal sebagai Martabat Tujuh. Hasil pengajaran dari Syeikh Fadlullah dari India yang diwariskan kepada muridnya, Burhanpuri. Berikut ini adalah pemaparannya:

Memahami “Tradisi”

Oleh M. Ali Lakhani

 “Tradisi tidak ada kaitannya dengan “zaman atau masa” apa pun, apakah “gelap”, “primordial”, atau sebaliknya. Tradisi mewakili doktrin-doktrin mengenai prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah.”
—Ananda K. Coomaraswamy, Correspondence, 1946

“…tidak pernah ada dan tidak pernah menjadi benar-benar tradisional yang tidak memuat beberapa elemen suatu tatanan adimanusia. Hal ini memang merupakan titik penting, bisa dikatakan memuat definisi sejati mengenai tradisi dan semua yang mencakup ke hal tersebut.”
René Guénon, The Reign of Quantity
 

Pengikut

© 2009 Free Blogger Template powered by Blogger.com | Designed by Amatullah |Template Design